Beberapa waktu lalu ada yang bertanya kepada saya,
“Senpai senang ya menulis artikel seperti ini?”
Saya jawab: iya, tentu. Kenapa? Karena selain sebagai praktisi karate, saya juga seorang dosen di Universitas Pelita Harapan. Dunia akademik menuntut kami untuk menulis, baik riset maupun publikasi di jurnal nasional dan internasional. Tapi di luar itu semua, menulis bagi saya punya makna yang jauh lebih personal.
Menulis adalah cara saya berdialog dengan diri sendiri. Sebuah internal talk, pengingat atas hal-hal yang sudah terjadi, juga refleksi untuk melangkah ke depan. Kita sebagai manusia punya keterbatasan dalam mengingat. Tidak semua momen bisa tersimpan rapi di kepala. Namun lewat tulisan, setiap pengalaman bisa “diabadikan”, seperti foto yang menangkap satu momen dan membuatnya bisa kita lihat kembali di kemudian hari.
Tulisan hari ini bukan sekadar untuk dibaca, tapi juga untuk mengingatkan diri saya sendiri—dan semoga bisa memberi manfaat bagi siapa pun yang meluangkan waktu membacanya.
Satu hal penting:
jangan pernah menunggu orang lain untuk memulai atau menyelesaikan sesuatu.
Pada akhirnya, manfaat terbesar akan kembali ke diri kita sendiri.
Saya teringat saat pertama kali memulai karate dulu. Banyak teman yang ikut dengan penuh semangat. Namun seiring waktu, hanya mereka yang benar-benar memiliki hati dan komitmen yang bertahan. Jalan yang awalnya ramai perlahan menjadi sepi. Pada titik itu, pilihan ada di tangan kita: tetap melanjutkan atau ikut berhenti.
Hal ini mirip dengan tren olahraga lari yang belakangan populer di kota Medan. Komunitas yang baik bisa menjadi motivasi besar. Namun, jika ada pengaruh negatif di dalamnya, cepat atau lambat kita juga bisa terpengaruh. Ajakan seperti “sudah dulu”, “istirahat saja”, atau “tidak usah terlalu serius” bisa perlahan menggeser tujuan kita, jika kita sendiri tidak punya tekad yang kuat.
Karate mengajarkan kita untuk teguh, disiplin, dan pantang menyerah.
Karena itu, segala bentuk pengaruh negatif yang menghambat progres harus kita singkirkan.
Perjalanan bushido adalah perjalanan yang kita tentukan sendiri—bukan orang lain.
Saya teringat bagaimana Shihan Amidin sering bertanya di dojo:
“Siapa yang mau ujian?”
Pertanyaan sederhana, tapi sarat makna. Itu melatih kita untuk mengambil keputusan. Bukan menunggu dipilih, bukan menunggu diarahkan, tapi berani menentukan langkah sendiri. Jangan biasakan hidup kita dipengaruhi atau bahkan diputuskan oleh orang lain.
Untuk kohai-kohai muda, saya ingin menambahkan satu hal penting:
jangan pernah melakukan negative self-talk.
Jangan pernah berkata pada diri sendiri bahwa kamu tidak bisa. Karena jika itu yang terus kamu yakini, maka selamanya kamu tidak akan bisa.
Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Itu pasti.
Yang membedakan adalah effort dan konsistensi untuk terus berjalan.
Kalau usaha saja tidak ada, maka memang akan sulit untuk berkembang.
Tidak ada manusia yang sempurna, tapi practice makes perfect.
Ada pepatah mengatakan, “the bird with the same feathers flock together.”
Kita akan berkumpul dengan orang-orang yang sejalan dengan kita.
Maka untuk teman-teman yang sedang mempersiapkan ujian kenaikan tingkat,
mari kita saling menguatkan, saling mendorong, dan bertumbuh bersama.
Kita tidak berjalan sendiri.
Kita menuju puncak—bersama-sama.
Renungan Karateka – 16 April 2026 – Rifin Khong


