Untitled Document



Untitled Document




Kami menyediakan pemesanan Dogi (Baju Karate). Anda dapat memesan secara online. Klik disini untuk masuk ke halaman pemesanan.



Janji Dojo

Perjalanan Mas Oyama


11 Motto dari Sosai Masutatsu Oyama

Tata Cara Kyokushin Indonesia (Etiket Dojo)

Susunan Pengurus Kyokushin Karate Indonesia

Kurikulum Latihan Karate Kyokushin Indonesia

Upacara Penghormatan (Saat Pembukaan & Penutupan Latihan)

Syarat Keanggotaan dan Formulir Pendaftaran




PERJALANAN KARATE SAYA KELILING DUNIA

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oleh : Mas. Oyama


I. HIDUP ATAU MATI

Bulan April di Chicago adalah bulan yang dingin. Angin yang menggigilkan sedang bertiup diatas danau Michigan. Saya benar-benar merasakan hawa dingin ini karena hari sebelumnya saya berada di Los Angeles yang hangat, tapi hanya hari itu sajalah saya mempunyai kesempatan untuk melihat bagaimana keadaan kota ini . Kami, Endo dan saya , terbang dari Tokyo lewat Hawaii , dan Endo benar-benar kehabisan tenaga .

Meskipun didalam ruangan penginapan kami terlepas dari hawa dingin, tetapi suatu perasaan tak pasti masih tetap melekat. Penerjemah meninggalkan beberapa pesan bagi kami. Kami sekarang sendiri disebuah Hotel asing di sebuah kota asing dan di negara yang asing pula . " Akan jadi apa kita ", Endo mengguman . " Well, kita harus menghadapinya, apapun jadinya", saya berkata . Saya merasa tak pasti dan tidak enak pula . Seperti yang terjadi, kita telah menempuh perjalanan dalam berbagai macam kendaraan ,dengan pesawat, mobil atau kereta api. Saya bahkan sudah merasa tidak enak selama perjalanan dari Tokyo ke Los Angeles dan kemudian ke Chicago .

Bertahun-tahun selama masa latihan, saya hidup menyendiri di gunung yang terpencil dan sunyi dan saya terbiasa untuk hidup menyepi . Walaupun demikian, kesepian yang saya rasakan di negara asing dengan orang-orang yang berbicara bahasa asing pula, sungguh suatu hal yang berbeda dengan hidup menyendiri di gunung terpencil .

Penerjemah kami masuk tanpa mengetuk pintu . Ia lalu mengumumkan pada kami, " Kamu berdua akan berada didalam pertunjukan mulai malam ini. Apa hendak kalian katakan ?" . Ia lalu menambahkan, " Bila kamu gagal malam nanti, maka besok pagi kamu akan berada dalam pesawat menuju ke Tokyo " . Ucapannya yang menyebutkan pesawat kembali ke Tokyo saya rasakan bagai suatu pemerasan terhebat . Kesan yang serupa tampaknya dialami oleh Endo juga, pemegang DAN VI Judo. Dia menghela napas panjang dengan mendongkol . " Apakah yang kamu perlukan untuk demonstrasi karate ini ? ", sipenerjemah bertanya. Saya katakan padanya agar menyiapkan lima atau enam lembar papan kayu setebal satu inchi, beberapa buah bata, beberapa buah batu karang yang rata lima kali tiga inchi .

Chicago Wrestling Hall adalah sebuah gedung olah raga dengan kapasitas 15.000 orang. Semuanya penuh. Diatas ring, Great Togo, tokoh utama malam itu memperkenalkan saya kepada para penonton, sedangkan saya berpakaian seragam karate . Saya tidak mengerti sepatah katapun ucapan perkenalan yang disampaikan oleh Great Togo dalam bahasa inggris yang sangat lancar . Walaupun demikian, suaranya telah memberikan pengaruh yang menenangkan syaraf saya yang telah mulai bekerja . Saya diminta untuk mendemonstrasikan keterampilan karate sebelum pertandingan utama malam itu, sebuah pertandingan gulat . Bagian saya malam itu hanyalah nomor dua pentingnya dibandingkan dengan pertandingan gulat utamanya . Tetapi saya bertekad untuk mengesankan para penonton dengan keefektifan karate sebagai suatu seni beladiri.
Saya telah melupakan segala kelelahan dan ketidak pastian saya . Saya mulai mendemonstrasikan jurus-jurus dasar dalam karate . Dengan segera timbul kegaduhan dari penonton yang memenuhi gedung olah raga itu. Saya mengira itu adalah sambutan dari penonton , tetapi saya salah. Penerjemah mengatakan, bahwa penonton bosan setengah mati dengan " tarian " saya yang lucu dan mereka berteriak teriak supaya saya menyingkir . Si penerjemah mengatakan , bahwa penonton lebih suka musik , musik apa saja .

Tidaklah mengherankan, apabila jurus-jurus karate, gumpalan darah dan keringat yang tercucur selama berabad-abad untuk mengembangkan dan menyempurnakan seni ini , mungkin sangatlah sulit untuk dipahami oleh orang-orang Amerika pada waktu itu .
Saya berpikir, bahwa demonstrasi tameshiwari akan memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap penonton asing . Saya memberikan tanda kepada Endo dari atas ring . Kekakuan yang aneh timbul pada otot-otot wajahnya. " Kau kira bisa membelah papan semacam ini ? ", ia bertanya sambil menunjukkan papan-papan yang ia sembunyikan dari para penonton .

Saya telah merencanakan untuk membelah selembar papan setebal satu inchi terlebih dahulu dan kemudian beberapa lembar papan yang ditumpuk . Saya merasa yakin, bahwa saya dapat membelah lima lembar papan setebal satu inchi sekali gus . Tetapi apa yang disajikan oleh Endo didepan saya adalah dua lembar papan masing-masing setebal lima inchi . Kesalahannya jelaslah diakibatkan oleh halangan bahasa. Tidaklah mengherankan kalau Endo menjadi pucat. Tetapi tak ada pilihan lain bagi saya kecuali jalan terus . "

Bagaimana kalau kamu gagal ? ", Endo berbisik. " Bagaimana lagi, apa yang bisa saya lakukan ? " , " Saya akan berada didalam pesawat sendirian kembali ke Tokyo besok pagi ". " Tidak ! " ," Saya akan berangkat bersamamu kalau hal itu terjadi". Sekarang hanya kami berdua . Segalanya tergantung pada saya untuk menentukan apakah kunjungan kami ke USA menjadi suatu sukses atau suatu bencana .

Papan pertama berderak pecah dengan pukulan tameshiwari pertama saya. Penonton menjadi lebih tenang. " Apakah kamu akan meneruskannya ? ", Endo bertanya . Saya jawab " ya " . Endo memegang papan kayu setebal lima inchi dengan kedua tangannya menghadap saya, dengan salah satu kakinya diletakkan dengan kuat dibelakang yang lain . Inilah pertama kalinya saya mencoba papan kayu setebal lebih dari sepuluh sentimeter. Yang lebih menyusahkan lagi, selama dua hari terakhir ini saya tidak makan dengan baik, tetapi saya harus melakukannya. Setelah beberapa saat saya menahan napas, papan setebal itu terbelah menjadi dua bagian oleh "seiken" (kepalan) saya . Saya mendengar helaan napas lega dari penonton dan kemudian sorakan gemuruh dan Endo pun tersenyum .

Tantangan berikutnya adalah tumpukan beberapa buah batu bata. Bata-bata ini menimbulkan masalah lain. Saya tidak tahu apa sebabnya, tetapi bata Amerika ini jauh lebih keras daripada bata-bata di Jepang sana . Lagipula tidak ada pengganjal dari besi untuk menopang batu bata itu; sedangkan lantai ring itu adalah matras yang empuk dan saya telah menguras segenap tenaga untuk menghajar papan lima inchi yang tak terduga itu. Saya merasa pusing melihat keadaan ini . Walaupun demikian, tak ada jalan kembali sekarang .

Saya meletakkan sebuah bata pada tiang di sudut ring dan menutupnya dengan sebuah handuk. Saya mengumpulkan segenap KIAI (vitalitas, tenaga kemauan) yang ada pada saya dan memukulnya dengan pukulan Shuto ( pukulan dengan tepi tangan ). Bata itu tidak pecah. Penonton mulai gelisah. Mereka tidak lagi tenang. Saya harus memulihkan kegagalan ini dengan secepatnya . Saya mencoba untuk kedua kalinya. Bata itu ternyata menolak untuk pecah dibawah Shuto saya . Sekarang penonton mulai bertingkah lagi . Teriakan-teriakan , umpatan dan olok-olok mulai timbul .

Saya sungguh sedih dengan kondisi phisik saya yang buruk . Saya bisa membayangkan diri saya yang sakit dan mabuk didalam pesawat yang akan membawa saya kembali ke Tokyo. Ini adalah percobaan ketiga dan terakhir bagi saya . Ketika saya menahan napas untuk usaha yang terakhir, tiba-tiba timbul rasa tenang yang aneh dalam pikiran saya . Tak ada ketergesaan, tak ada ketidak sabaran mencemari pukulan saya ketika pukulan itu mengenai bata. Saya mengangkat handuk dan disitu bata tergeletak berkeping-keping .

Sorakan bergemuruh menyapu penonton. Tepukan tangan yang memekakkan telinga memenuhi gedung . Tak pernah sebelumnya saya mendapatkan sambutan sorak sorai seperti itu . Ketika saya kembali ke kamar ganti, disana menunggu seorang lelaki setengah tua . Kami bersalaman. Ia memegang tangan kanan saya dan memeriksanya dengan seksama. Ia berkata, " saya berharap tangan anak laki-laki saya bisa sekuat ini " . Lelaki itu adalah petinju terbesar sepanjang masa, Jack Dempsey .

Endo dan saya telah lolos dari nasib harus dikirim kembali ke Jepang . Kami diperkenankan untuk tinggal dalam tim Great Togo yang hebat, dan Endo mendapat kan nama Ko Togo dan saya Mas Togo .

Great Togo si Pegulat pengusaha itu memunculkan lagi usaha menghasilkan uang . Ia mengiklankan sebuah pertunjukan dimana setiap sukarelawan yang dapat memecahkan batu bata dengan kepalan tangan seperti saya akan diberi hadiah sebanyak USD 1,000.00. Pelajaran yang saya peroleh dari pengalamanan di Chicago membuat saya berusaha mendapatkan papan-papan kayu dengan tebal satu inchi serta pengganjal dari besi untuk menopang batu bata . Dengan demikian mobil yang saya tumpangi selalu penuh dengan papan, batu bata, batu karang yang rata serta pengganjal besi .

Hadiah USD 1,000.00 benar-benar terbukti sebagai daya tarik yang besar ,tetapi tidak ada seorangpun yang berhasil mengambil uang tersebut .
Saya terus memecahkan benda keras, tidak saja batu bata, tetapi juga batu karang . Banyak orang Amerika yang naik keatas ring dan meminta saya menuliskan tanda tangan pada batu karang yang telah saya pecahkan .

Great Togo mendapatkan gagasan atraksi lain. Ia mengumumkan , bahwa siapa saja boleh mencoba memukul kepalan tangan saya dengan palu godam. Kepalan tangan saya bertahan dari segala pukulan yang diterima dari palu godam . Ada sebuah rahasia dibalik segala perbuatan penuh bahaya ini. Bila saja tangan saya diletakkan diatas lantai beton atau kayu keras yang datar, tidaklah mustahil tangan saya sudah hancur akibat pukulan keras tsb. Tetapi matras ring itu lentur, sehingga dapat meredam efek pukulan dengan jalan tidak menahannya .

Walaupun demikian, pukulan palu godam yang terus menerus menghujani kepalan tangan saya hari demi hari bukanlah tanpa berakibat apa-apa . Kepalan tangan kanan saya mulai bengkak dan rasa sakitnya semakin menjadi dari hari ke hari . Setiap usai pertunjukan, saya harus merendam tangan saya yang gemetaran dalam air es . Ada saat - saat dimana saya merasa hendak menangis dalam kesunyian diruangan Hotel . Tetapi saya harus hidup dan demikianlah pertunjukan harus terus berlangsung .

Tentu saja, bukanlah kehendak saya agar karate menjadi barang pertunjukan. Akan tetapi, tidak ada pilihan lain kecuali menjadikannya suatu tontonan apabila ingin membuat karate terkenal dan populer di suatu negara yang orang-orangnya tidak mengerti tentang itu . Saya harus mencari uang bila saya hendak hidup dan memiliki dojo (tempat latihan) karate saya sendiri .

Kami mengadakan tour keliling Illinois, Indiana, Michigan dan Iowa. Banyak sekali laki-laki dengan penuh keyakinan mencoba mendapatkan USD 1,000.00 .

Suatu malam di Iowa, seorang raksasa lebih dari 6 kaki tingginya melangkah kedalam ring. Kepalanya yang besar dan kuat seperti banteng menempel pada pundaknya yang besar dan lebar . Saya telah dibuat tercengang-cengang oleh seorang pegulat profesional Amerika ketika pertama kali di Chicago, tetapi ia bukan apa-apa dibandingkan dengan monster ini .
Sorakan riuh dan keras terdengar dari para penonton . Raksasa itu perlahan-lahan mendekati alas besi dan batanya. Kemudian segalanya menjadi hening . Ia membalikkan kepalanya melihat penonton dan meneriakkan beberapa patah kata . Penerjemah kami menjelaskan, " Tameshiwari dari Mas Togo pada batu bata pastilah suatu trick ". " Ia mungkin telah menggunakan tipuan, tapi saya akan menunjukkan kepada anda apa yang bisa dilakukan oleh seorang laki-laki sejati tanpa tipuan-tipuan itu ".

Kemudian ia mengangkat tangannya yang besar dan menjatuhkannya pada bata itu. Saya tak perlu melihat. Bata itu telah menolak untuk pecah dibawah pukulannya. Ia mengulangi gerakan yang sama dengan kalap beberapa kali dengan kekuatan yang luar biasa . Darah mulai mengalir keluar dari tangannya. Bata itu perlahan-lahan berlumuran darah dan keringat .

Tentu saja ia tidak tahu, bahwa sangatlah sulit untuk membelah papan, apalagi bata dengan tangan yang berkeringat. Diapun tidak tahu, bahwa handuk yang diletakkan diatas bata, bukanlah dimaksudkan untuk melindungi tangan, tetapi untuk menjaga agar bata itu tidak menjadi licin .

Setelah berkali-kali mencoba, ia harus menyerah. Walaupun demikian, ia menolak untuk mengakui kekalahannya. Kali ini ia berteriak, " Mungkin ada suatu teknik tertentu untuk memecahkan bata ". ' Tapi bagaimana kalau bergulat ? " " Saya pasti dapat mengalahkannya apabila kita bergulat ". " Sekarang, Mas Togo, kamu tidak akan mengajak saya untuk bertanding gulat bukan ? " " Apa yang mau kamu katakan ? "

"Mengapa tidak ?", saya menjawab. " Jika kamu kalah, kamu akan membayar USD 1,000.00 , betul ? " " Benar ", jawabnya .

Saya minta penerjemah untuk mengatakan kepadanya, bahwa Karate tidaklah berbeda dari seni beladiri lainnya, dan dia harus siap berjaga untuk menderita luka-luka secara fisik .
Dengan senyuman penuh keyakinan, raksasa itu mengatakan pada saya, bahwa ia adalah Pegulat Profesional dan telah mencapai tingkat yang tinggi dalam Judo.
Anggapannya , seorang laki-laki dengan tinggi 5 kaki 7 inchi adalah ringan saja .

Dengan perlahan-lahan ia menggulung lengan bajunya dan bersiaga dengan postur yang siap untuk menyerang. Sebuah teriakan keras dari seorang wanita terdengar diantara para penonton. Ia berteriak , " Bunuh Jepang itu, Bunuh Jepang itu ! " .

Apabila ini hanya suatu pertarungan biasa, maka saya lebih suka untuk menghentikannya dengan satu pukulan saja . Tetapi saya memilih untuk menunggu ia membuat gerakan pertama .

Si raksasa mencoba melontarkan pukulan straight kiri yang menunjukkan kecepatan yang luar biasa untuk orang sebesar dia . Pukulan straight kiri ini langsung diikuti dengan pukulan hook kanan. Pukulannya melewati satu inchi diatas kepala saya dengan suara angin yang keras. Ia tak pernah berhenti dan kecepatannya tak pernah turun. Saya pikir sekarang ini akan agak kasar .

Setelah berkali-kali melakukan usaha yang sia-sia untuk memukul wajah saya secara telak, maka ia mengubah tekniknya . Sekarang ia berusaha menyergap saya. Dia merendahkan kedua tangan dan mendorong saya untuk mencengkram kepala . Gerakan ini membuka peluang yang telah saya tunggu-tunggu. Ketika ia menurunkan tangannya untuk meraih, saya langsung melontarkan sebuah serangan ke matanya .

Tidaklah sulit untuk membutakan seorang musuh dengan menusukkan jari tangan pada matanya. Walaupun demikian, tidaklah perlu sungguh-sungguh menusukkan jari tangan kemata, tapi cukup dengan menggosokkannya .

Saya telah berlatih melakukan teknik tusukan mata selama bertahun-tahun dengan menggantungkan sebuah kartu dari langit-langit. Kartu ini diberi lubang kecil seperti mata diwajah seseorang. Tetapi meskipun berlatih selama bertahun-tahun, teknik tersebut terbukti sangat sulit dilakukan. Karena itu saya membuat suatu gerakan yang lebih sederhana. Apabila seseorang meraba hidung dengan jari tengah, maka kedua jari dikiri dan kanannya pastilah meraba mata lawan . Dengan demikian tidak perlu menegangkan jari-jari .

Saya lontarkan jari-jari saya. Kebutaan sementara ini membuat ia terhentak dan bergoyang-goyang. Ia menutup matanya dengan satu tangan dan gerakannya untuk menutup mata hanya dengan satu tangan menunjukkan ia memang seorang jagoan yang berpengalaman .

Saya tidak mensia-siakan satu saatpun dan mendekatinya dengan sebuah tendangan lutut kearah kemaluannya dengan menghindarkan biji kemaluannya. Sekarang ia benar-benar terbuka untuk serangan saya berikutnya; dua pukulan beruntun ke iga . Saya mendengar tulangnya retak . Raksasa itu roboh ke matras sambil mengeluh .

Para penonton berteriak-teriak dengan penuh kemarahan. Saya berjalan kesudut ring .
"Awas !", Endo berteriak. Secara instink saya menunduk . Suatu benda terbang lewat diatas pundak saya . " Bunuh Jepang itu !", suara seorang wanita berteriak. " Bunuh Togo !" .

Endo melompati tali dari luar ring. Sebuah botol Coca Cola terhindar dari kepalanya. Banyak lagi yang mengacung-acungkan botol. Wajah Endo menjadi pucat dan saya yakin demikian juga halnya dengan saya .
"Apakah kamu pikir mereka akan menyerbu ?" , ia bertanya. " Tidak tahu". " Hati-hati saja dengan botol itu " . Saat itu tentu saja saya bertelanjang kaki dan takut akan menginjak pecahan kaca diatas matras .

"Polisi, mereka disini ", Endo menjerit . Sejumlah polisi menerobos gerombolan orang itu. Mereka memanjat ring. Dua orang berseragam putih dengan membawa usungan berjalan mengikuti para polisi itu . Sirene ambulance terdengar meraung-raung dari luar. Polisi itu menarik revolver nya. Raksasa yang tergeletak diatas matras diangkat keatas usungan .

"Kamu harus keluar dari sini bersama kami ", salah satu polisi itu berkata . Dengan dilindungi satu kompi polisi kami keluar dari gedung olah raga itu. Beberapa laki-laki mencoba menjangkau kami melalui pundak polisi-polisi itu . Diluar sudah ada tiga mobil patroli polisi dan dua ambulance. Segera setelah kami naik, ambulance itu meninggalkan tempat tersebut dengan kecepatan tinggi dengan suara sirene yang meraung-raung .

"Kemana mereka akan membawa kita ?", Endo bertanya. "Tak ada tempat yang lebih buruk dari tempat ini ", saya menjawab. "Jadi kita tak perlu bingung kemana mereka akan membawa kita ".

Beberapa menit kemudian , ambulance itu berhenti didepan pintu masuk hotel . Saya menjatuhkan diri di ranjang. Ketenangan saya mulai agak pulih kembali . "Sudah aman sekarang " , saya berkata . " Belum selesai sekarang ", Endo menyahuti . Ia sedang melongok didepan jendela sambil melihat ke jalan dibawahnya. Saya segera mengikutinya. Kira-kira seratus orang sedang mendatangi hotel. Beberapa diantaranya membawa senapan .

"Mari kita mencoba tangga dibelakang ", Endo berkata .
" Saya kira kita tidak akan mencapai mobil ". "Mobil itu ada dihalaman parkir hotel bukan ? " , saya berkata .

Gerombolan orang itu sedang mendesak didepan pintu hotel . Kami berada dilantai empat . Saya memikirkan tangga darurat. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk membiasakan diri dengan jalan keluar darurat pada suatu tempat yang asing, meskipun saya hanya tinggal semalam saja ditempat itu . Sudah menjadi kebiasaan saya juga untuk tinggal dalam kamar hotel dengan switch lampu ada dibelakang saya sebelum saya membukakan pintu untuk pengunjung yang tak terduga. Sikap berjaga-jaga ini memungkinkan saya untuk memadamkan lampu bila dianggap perlu .

Kami mendengar kira-kira lima orang berjalan dikoridor. Ketukan keras terdengar dipintu. Saya berjalan mengendap kepintu, menyandarkan punggung saya pada switch lampu dan menunggu . Orang pertama yang melewati pintu ini akan menjumpai kematiannya, saya berjanji pada diri sendiri .

" Buka !", " Ini polisi !" , seorang berteriak . Saya tetap diam dan menunggu. Seseorang bersandar pada pintu. Kali ini pintu terbuka dengan keras. Empat polisi menerobos masuk kedalam ruangan . Mereka benar-benar polisi berseragam .

" Bergegaslah keluar dari sini". "Ada sebuah sedan hitam menunggu dibawah tangga darurat untuk kebakaran ", salah satu diantara mereka berkata . Orang tsb. adalah yang memimpin pasukan polisi ketika digedung olah raga .

Kami meraih tas-tas kami dan mengikutinya turun lewat tangga darurat . Pintu sedan hitam itu terbuka dari dalam , dan seorang laki-laki ditempat sopir melambaikan tangan pada kami. Kami melompat masuk. Mobil itu belok ke sebuah tikungan .

Laki-laki dibelakang kemudi berkata , (dengan melihat tanda dibahunya, dia adalah seorang agen FBI ) , " Kota ini telah terkenal dengan sentimen anti Jepang sejak kejadian Pearl Harbour ". " Sudah biasa kalau Pegulat Jepang yang mengunjungi tempat itu selalu dikalahkan oleh Pegulat-Pegulat lokal ". " Sekarang kamu mengalahkan yang terbaik". " Untunglah kamu bisa pergi dengan utuh " .

" Terima kasih ", saya berkata .
" Karate memang suatu seni beladiri yang sangat dahsyat " . " Beberapa hari yang lalu, saya melihat kamu di TV sedang memecahkan bata-bata dengan tangan kosong " . " Saya berharap, bahwa suatu ketika nanti kamu datang dan mengajarkan teknik karatemu pada orang-orang FBI ", kata polisi itu .
Saya menjanjikannya bahwa saya akan melakukannya .

Saya memenuhi janji itu pada tahun 1958 ketika saya mengunjungi Amerika Serikat untuk ketiga kalinya . Pada tahun 1958 itu pula saya berjanji secara rahasia pada diri saya sendiri untuk mengusahakan Karate Booming di Amerika Serikat .

Pada hari setelah kami lolos dari Iowa City ( 9 April 1955 ), sebuah artikel dalam koran mengatakan, bahwa laki-laki yang bertempur dengan saya berada dalam kondisi yang kritis dan tujuh buah iganya patah . Beberapa waktu kemudian saya mendengar desas desus ,bahwa ia telah meninggal dunia. Saya selalu berharap bahwa hal itu tidak benar .

II. LAS VEGAS

" Tuan Oyama", si manajer night club berkata . Saya baru saja menyelesaikan pertunjukan malam di Club ini dan saya sedang berpikir-pikir bagaimana caranya menghabiskan waktu malam ini ". " Ya", saya menjawab . " Tidakkah kamu tertarik untuk melihat keruangan khusus kami ?". Manajer itu adalah seorang laki-laki yang berpakaian rapi dan bersih. Ia agak lebih tinggi dari saya yang 5 kaki 7 inchi .

Saya telah menggantikan nama panggilan Mas Togo dengan nama Mas Oyama, nama saya sendiri dalam bahasa Jepang . " Ya " , saya menjawab. Setiap orang pastilah tertarik dengan ruangan khusus dari sebuah night club di Las Vegas .

Si manajer mengantar saya menuju kebagian belakang night club . Sepatu saya terbenam dalam dalam di karpetnya . Ruangan itu diberi beberapa meja dan kursi . Penerangannya yang remang-remang menimbulkan suasana yang tenang dan syahdu . Musik juga ada . Dua orang laki-laki serta lima orang gadis berada didalam ruangan tsb. Salah satu diantara gadis-gadis tadi duduk dibangku bar . Rambutnya pirang . Dibawah roknya yang pendek terpeta kakinya .Lengkungan pinggulnya tampak menonjol. Saya duga ia seorang waitress . Gadis-gadis itu duduk dalam posisi bebas disekeliling dua pemuda itu .

Mereka segera berdiri setelah kami memasuki ruangan . Keduanya lebih dari 6 kaki tingginya dan kedua-duanya berpundak lebar . Salah satu diantaranya adalah seorang pegulat dari Virginia . Yang lainnya berasal dari Carolina Utara yang menurut si manajer dia adalah seorang laki-laki dengan kekuatan phisik yang luar biasa .

Saya berjabatan tangan dengan mereka . Seorang karate-ka, atau seorang pegulat, untuk persoalan ini secara instinktif akan mengukur kemampuan seseorang sebagai fighter meskipun pada saat berjabatan tangan . Saya melihat, bahwa Mr. Virginia itu lebih waspada daripada yang satunya . Ia meletakkan salah satu kakinya agak kebelakang tubuhnya . Hal ini menunjukkan kesiagaan untuk membalas tarikan tangan yang tak terduga . Postur yang ia peragakan menunjukkan, bahwa ia tahu suatu jabatan tangan yang tampaknya tanpa maksud jahat dapat menawarkan suatu peluang untuk sebuah pukulan yang mematikan .

Saat saya berjabatan tangan dengan mereka , saya berpikir, bahwa laki-laki Carolina Utara itu mungkin lebih unggul dalam kekuatan phisik dibanding dengan Mr. Virginia. Akan tetapi dalam keterampilan bertempur mungkin ia kalah .

" Minum , Tuan Oyama ?" , tanya si manajer . " Saya tidak minum alkohol, boleh saya minta Coke saja ? " Bar girl tersebut segera mengatur botol-botol serta gelas-gelas dalam nampan .
Si manajer kemudian menanyakan apakah saya menyukai ruangan khusus itu . Saya mengatakan ya . Ia menjelaskan," ruangan ini dipakai untuk menghibur tamu VIP saja ". " Orang-orang VIP yang ingin menikmati permainan poker secara pribadi serta hal-hal lain seperti itu dapat dilakukan diruangan ini " . " Sekarang Tuan Oyama, anda mengatakan tidak suka minuman keras ". " Apakah juga tidak suka dengan gadis-gadis ? " " Tidak, sama sekali tidak " , saya berkata dengan segera . " Bagus , mari kita bersenang-senang kalau begitu " . " Sekarang, pilihlah gadis mana yang paling kamu sukai , tetapi dengan satu syarat ……….." .

Saya sudah menduga hal ini. Saya tidak memikir si manajer akan memberikan bonus semacam ini tanpa meminta suatu imbalan . Mr. Virginia tersenyum. Ia melanjutkan kata-kata si manajer, " Tuan Oyama, kami telah melihat kamu demonstrasi di TV". " Yang kami inginkan adalah kamu mendemonstrasikan kekuatan dan keterampilan karatemu didepan mata kami " . Laki-laki Carolina Utara itu juga memandang wajah saya lekat-lekat . Gadis-gadis itu pun menatap saya dengan penuh perhatian .

" Apakah ada suatu cara tertentu yang kalian hendak lihat dalam mendemonstrasikan karate ? " saya bertanya Mr. Virginia itu . Ia tak siap dengan jawaban, maka ia mulai berpikir . Gadis bar itu membawa sebuah nampan dengan botol-botol dan gelas . Ada sebuah botol Coke dan dua gelas 12 ounce . Saya mengambil gelas saya dari nampan dan mereka mengambil milik mereka . Ketika kami mengembalikan gelas-gelas itu ke nampan, Mr. Virginia tampaknya mengencangkan jari-jari nya yang sedang memegang gelas . Dengan derakan tajam, gelas itu pecah berkeping-keping ditangannya .

" Hebat ", saya berkata. Akan tetapi itu hanyalah basa basi saja bagi saya . Saya mengambil nampan itu dari si pirang dan meletakkannya diatas meja . Saya letakkan gelas 12 ounce yang tersisa ditengah-tengah nampan . Dengan ringan tetapi penuh kecepatan saya menurunkan Shuto kanan saya ditepian gelas. Gelas itu jatuh kenampan menjadi dua bagian yang terpotong rapi .

Mr. Virginia kemudian menanggalkan mantel dan bajunya . bagian atas tubuhnya yang telanjang penuh dengan otot . Saya pernah melihat hal ini di film, yaitu suatu tonjolan otot pada satu lengan menari-nari melewati pundak dan berpindah kelengan yang satunya mengikuti alunan irama musik . Mr. Virginia sedang melakukan hal yang sama . Gumpalan otot-otot menari-nari dipundaknya yang lebar sesuai irama musik yang mengalun diruangan itu melalui loud speaker . Gerakan ritmis dari otot-otot yang menyeberang dari satu lengan ke lengan lainnya melalui bahu yang lebar itu tidak berhenti ketika musik masih berbunyi . Benar-benar pemandangan yang menakjubkan. Saya dengan tulus mengucapkan pujian terhadap Mr. Virginia untuk hasil yang menakjubkan itu . Walaupun demikian, saya tidak yakin kalau gerakan-gerakan otot yang indah itu benar-benar membuktikan keunggulan kekuatan phisiknya .

Mr. Virginia itu pastilah telah menduga apa yang ada dalam pikiran saya karena ia pergi kebalik bar dan kembali membawa botol - botol Coca Cola kosong, lalu meletakkannya diatas meja. Kemudian ia mengambil salah satu botol dan meletakkan di siku bagian dalam lengannya . Ketika ia melipat lengannya maka botol itu pecah dengan derakan yang keras . Gadis-gadis itu menghela napas dengan penuh kekaguman .

Sekarang giliran saya. Saya minta si pirang membawakan dua botol whisky . Saya meletakkan botol-botol itu agak terpisah satu dan lainnya diatas meja dan menanggalkan mantel saya . Saya membungkuk kedepan dan menahan napas . Kemudian saya melemparkan pukulan Shuto, pertama-tama pada leher botol disebelah kanan, kemudian leher botol sebelah kiri . Leher kedua botol itu terbang lepas seolah-olah seperti dipotong dengan pisau . Sedangkan botol-botol itu tetap berdiri ditempatnya tanpa leher . Hal ini hanya berlangsung dalam fraksi detik .

Mr. Virginia itu mendekati saya dan menyalami tangan saya . Saya tidak pernah berpikir sebelumnya, bahwa memotong leher botol dengan shuto akan mengesankan orang-orang Amerika itu sedemikian rupa . Dengan demikian, sejak saat itu saya kadang-kadang memotong leher botol dengan pukulan shuto pada pertunjukan-pertunjukan yang saya lakukan .
Laki-laki dari Carolina Utara itu kemudian menantang saya untuk bertanding gulat tangan ( Panco) . Lengannya benar-benar besar .

Saya telah hidup digunung yang terpencil untuk menyepi selama satu setengah tahun segera setelah selesai Perang Dunia II dan berlatih keterampilan karate serta membentuk otot-otot saya . Selama jangka waktu itu saya telah mencoba berbagai macam latihan . Ketika saya kembali kerumah setelah latihan digunung, saya juga mulai berlatih mengangkat beban yang beratnya dua kali lipat bobot badan saya sendiri dengan berbaring dipunggung. Berat badan saya kira-kira 175 pon dan saya mengangkat beban kira-kira seberat 350 pon lebih .

Pada mulanya saya hanya mampu mengangkat beban sampai seberat 350 pon tanpa banyak kesukaran . Akan tetapi beban tambahan yang sedikit saja membuat beban itu tak mungkin terangkat . Karena itu saya membuat sistem sendiri dengan jalan menambahkan sepotong batu kecil pada beban itu . Setiap hari saya menambahkan lagi dengan sepotong batu kecil sampai jumlah batu itu mencapai 9 pon . Saya mendapatkan, bahwa saya mampu mengangkat beban itu dengan ditempeli batu seberat 9 pon, tetapi saya tak dapat melakukannya bila batu itu diganti dengan beban .

Saya kemudian mencari jarum yang panjang dan tebal dan meminta istri saya untuk menusuk atau menggores pinggul saya tanpa ampun pada saat saya sedang mengangkat beban itu . Istri saya segan untuk melakukannya, tetapi saya memaksa dia untuk melakukannya . Sistem ini terbukti berhasil. Ketika rasa sakit timbul pada bagian yang ditusuk jarum, maka saya mampu mengangkat beban itu dengan letupan tenaga . Latihan ini terbukti berguna dalam duel gulat panco antara saya dan laki-laki Carolina Utara itu . Saya benar-benar mengalahkannya .

Si Manajer kemudian berkata dengan tersenyum, " Tuan Oyama, sekarang ambillah salah satu gadis yang anda sukai ". Semua gadis itu berdiri dan melihat kesaya dengan berharap-harap. Saya memandang gadis di bar yang berambut pirang dan mata kami bertemu . " Saya ingin turun kebawah untuk berdansa dengannya sebentar " , saya berkata .

Las Vegas dalam pandangan saya adalah seperti bunga yang sedang mekar ditengah-tengah gurun. Night Club - Night Club , Casino- Casino serta Hotel-Hotel berjajar sepanjang Highway 91 saling berlomba satu sama lain dalam kecemerlangan neon-neon . Bahkan Gereja-Gereja pun membuka pintunya sepanjang malam untuk menyambut pasangan-pasangan yang mungkin datang setiap saat untuk dinikahkan .

Saya berdansa dengan gadis itu, namanya Marjorie Darson, untuk beberapa lama. Setelah kami melangkah keluar untuk berjalan-jalan diudara malam yang sejuk, saya mulai memanggilnya Marj .

Kami berhenti dibawah naungan pohon yang gelap . Kamipun berciuman. Kami masih berpelukan ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti beberapa kaki dari kami. Empat laki-laki. Mereka masih muda dan tampak kuat-kuat . Laki-laki tertinggi diantara mereka mendekat dan mulai berbicara dengan Marj . Dia adalah Joe, teman laki-lakinya . Dia bertanya mengapa ia tidak menepati janji dengannya untuk makan malam . " Sekarang kamu ikut aku ", Joe berkata dan ia menarik tangan Marj . Sebelum saya menyadari apa yang saya lakukan, saya telah melontarkan pukulan Shuto dan memukulnya . Ia melangkah mundur dan menarik pisau. Joe mengulurkan tangannya dengan sikap agak membungkuk .

Ada beberapa sikap karate untuk menanggulangi lawan yang bersenjatakan pisau . Saya segera mengincar tangan Joe yang memegang pisau. Seperti yang telah saya duga, ia mengangkat tangannya. Sebelum ia sempat menurunkannya lagi saya telah melompat. Joe mencoba menghunjamkan pisaunya kepunggung saya. Saya menangkis dengan tangan kiri dan memukul wajahnya dengan tangan kanan . Pisaunya terbang lepas dari tangan dan ia roboh ketanah dengan berdarah .

Saya tidak menaruh hormat secara khusus pada orang Amerika. Akan tetapi satu hal yang sangat saya hormati pada mereka adalah kecenderungan mereka untuk berpegang pada semangat tempur satu lawan satu . Mereka tidak pernah main keroyokan sewaktu berkelahi dengan satu lawan .

Salah satu laki-laki diantara tiga yang tersisa melangkah kedepan dan berdiri menghadapi saya . Ia membungkukkan badannya seolah-olah hendak membantu Joe untuk bangkit . Tetapi pada saat berikutnya, ia melontarkan tikaman yang hebat keleher saya . Tikaman itu cukup memiliki tenaga dan kecepatan untuk membuat saya roboh andaikata mengenai.

Menghindar dari tebasan itu dengan jarak serambut, saya segera melontarkan Koken saya kerahangnya . Koken adalah pukulan dengan bagian luar pergelangan tangan . Pukulan ini adalah pukulan tercepat diantara pukulan-pukulan dalam Karate . Pukulan-pukulan Karate lainnya : Seiken, Shuto, Nukite serta pukulan telapak tangan, semuanya memerlukan beberapa saat persiapan sebelum pukulan-pukulan tersebut dilontarkan . Akan tetapi Koken dapat dilontarkan tanpa persiapan sebelumnya, dan tepat sekali untuk memukul ke rahang lawan . Koken adalah alat paling efektif untuk mengambil inisiatif apabila lawan berada dalam jangkauan tangan kita .

Lawan kedua saya roboh dengan rahang pecah . Dua lainnya mungkin tidak berminat berkelahi sejak mulanya atau mungkin berpikir akan bijaksanalah untuk membiarkan saya pergi. Mereka memberi tanda pada saya untuk membawa Marj pergi dari tempat itu. Mereka mengangkat Joe dan temannya dari tanah dan membawa mereka kedalam mobil, lalu pergi .

" Mari kita pergi ", saya berkata kepada Marj. Ia melihat pada saya dengan mata terbuka lebar. " Saya berpikir kita akan melakukan jalan-jalan yang tenang ". " Saya akan mengantar kamu pulang " .

" Tidak ", ia berkata sambil melingkarkan tangannya pada lengan saya ". " Kamu tak akan meninggalkan saya malam ini " .
" Saya harus berkemas ", saya berkata kepadanya .
" Apakah kamu akan pergi ke tempat lain ? "
" Ya, ke New York " .
" Maukah kamu membawa saya ? "
Saya tidak pernah menduga hal itu. Tetapi Marj menjelaskan, bahwa ia telah bosan dengan Las Vegas, dan andaikan ia menyukai kota ini, iapun tak dapat tinggal di sana sekarang . Dengan demikian kita pergi ke New York bersama-sama . Waktu itu adalah bulan April 1955 .

III. PEMERASAN SEBANYAK USD 10,000.00

Setelah kami tiba di New York, Marj menyewa sebuah apartemen yang lengkap didekat Greenwich Village. Kami memutuskan untuk tinggal bersama . Marj lah yang menganjurkan agar kami tinggal bersama, ia mengatakan bahwa kami dapat menghemat uang dengan cara demikian .
Saya mempunyai dua pemikiran sewaktu datang ke Amerika Serikat . Yang pertama adalah mencari dana untuk membuka gymnasium karate disana, dan yang kedua adalah berduel dengan banteng Amerika .

Saya telah berhasil merobohkan banteng Jepang dengan pukulan shuto . Sekarang saya ingin tahu apakah karate saya menimbulkan akibat yang sama pada banteng Amerika, dan saya berpikir bahwa bila saya berhasil merobohkan seekor banteng di depan banyak penonton di Amerika dengan menggunakan tangan kosong, maka hal itu akan merupakan bantuan besar untuk memajukan karate dinegara itu .

Marj adalah teman ideal dalam minggu-minggu tanpa kejadian apa-apa di New York . Selain banyak membantu saya selama tinggal di New York, ia juga telah bersusah payah untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada saya. Dan setelah itu saya tidak ada kesulitan untuk bercakap-cakap dengan orang-orang disekitar saya .

Marj dan saya berjalan-jalan didekat Washington Square pada senja hari . Kadang-kadang saya berjalan sampai Broadway dan bahkan sampai di Central Park . Pada saat jalan-jalan itulah saya kebetulan melihat kubah dari Madison Square Garden . Madison Square Garden merupakan arena paling terkenal di Amerika untuk tinju dan gulat . Saya memimpikan ,bahwa suatu saat nanti saya akan mendemonstrasikan keterampilan karate saya di kuil olah raga itu .
Ini adalah mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan pada tahun 1962. Debut saya di Garden dimulai dengan pemunculan saya pada Show Ed Sullivan .

Kami telah berada di New York selama tiga minggu. Suatu pagi saya sedang melakukan latihan ringan dikamar tidur , melakukan pusp-up dengan menggunakan jempol dan jari telunjuk saja . Salah satu keuntungan dari latihan ini adalah, bahwa latihan semacam ini tidak memerlukan banyak tempat, ataupun alat-alat macam apapun .

Hasilnya akan besar bila kamu hanya menggunakan jari-jari saja, bukan telapak tangan, sewaktu kamu mendorong diri kamu keatas .
Setelah kamu maju dalam latihan ini maka kamu bisa mengurangi jumlah jari yang menopang tubuh menjadi tiga saja . Bila kamu berhasil melakukannya maka kamu telah cukup maju dalam permainan ini . Saya sendiri sudah mencapai tahap lanjut dalam hal ini. Saya telah sanggup berdiri dengan tangan , kepala dibawah , dan hanya dua jari pada masing-masing tangan yang digunakan untuk menopang seluruh tubuh . Apabila seseorang telah mencapai taraf ini, maka ia akan mampu melipat mata uang logam dengan tiga atau dua jari pada satu tangan . Saya teringat bagaimana saya membuat orang-orang Amerika terheran-heran ketika saya melakukannya dalam beberapa kesempatan .

Marj sedang bercakap-cakap ditelepon dalam ruang duduk. Telepon semacam ini adalah salah satu telepon dari luar yang sangat jarang kami terima . Meskipun demikian, saya tidak banyak menaruh perhatian, karena saya mendengar dari Marj , bahwa salah satu bibinya tinggal di New York . Ia juga menceritakan, bahwa seorang saudara laki-lakinya tinggal di New York . . Saya pikir telepon itu pastilah dari bibi atau saudara laki-lakinya . Menurut Marj, saudaranya bekerja mencari uang dengan menjadi penyanyi di night club .

Setelah saya berjalan jungkir balik dengan jari melintasi kamar tidur, maka saya keluar menuju kamar duduk. Kami telah memutuskan untuk makan pagi diluar hari ini .

Marj sedang duduk disamping telepon dan menatap kosong pada tembok didepannya. Ia kelihatan aneh . Wajahnyapun tampak pusat .
" Ada masalah apa ?". " Apa yang terjadi ?" , saya bertanya kepadanya dengan perasaan gelisah . Marj membalikkan wajahnya melihat kesaya tetapi ia tetap diam .
" Apakah ini telepon dari bibimu ? " , saya mendesaknya . Bibir Marj bergerak seolah-olah hendak mengatakan sesuatu , tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya .
" Katakan kepadaku apa yang terjadi ", saya berkata dengan tidak sabar . " ini adalah telepon dari seseorang atas nama Tom ". Tom adalah nama saudaranya . " Menelepon atas nama Tom ? " . "Mengapa?" . "Apakah terjadi sesuatu dengan Tom ?" ,saya bertanya dengan cepat .

Setelah ragu-ragu beberapa saat, Marj akhirnya berkata, " Apakah kamu mau mendengarkan bila aku menceritakan beberapa hal yang tidak enak ?" .
" Tentu ", saya menjawab . Saya duduk disofa disamping Marj . Marj menghembuskan napas panjang. " Aku telah menceritakan kepadamu bahwa Tom baru saja mulai menanjak didunia night club ", ia berkata .
" Rekamannya yang pertama terjual cukup baik ". " Ada beberapa perusahaan rekaman yang mulai tertarik pada lagu-lagu Tom " . " Kamu tahu aku bekerja di night club Las Vegas sebenarnya untuk membantu Tom juga ….".

" Dan apa yang telah terjadi pada Tom ?" " Apakah dia terluka atau apa ?" . " Dia ada kesulitan masalah wanita ". " Seorang wanita yang berhubungan dengan buaya darat ". " Begitu " , saya berkata . " Yang baru saja menelepon adalah seorang bajingan dari Harlem " . " Wanita itu adalah milik boss laki-laki itu " . " Ia mengatakan padaku ,bahwa bossnya akan membalas Tom ". " Ia gila dan mengancam akan menerbitkan berita skandal tentang Tom dalam sebuah majalah apabila aku tidak menyediakan tuntutannya " .

" Berapa yang ia inginkan " , sayabertanya Marj .
" Ia minta sepuluh ribu " .
" Bisakah kita menawarnya ? "
" Tidak, saya kira tidak bisa ", Marj menghela napas panjang . " Mereka ada persoalan lain dengan Tom " . " Apa maksudmu ? " . Marj menggigit bibir bawahnya . " Mereka akan menelepon lagi dalam waktu satu jam ……… Saya tidak bisa mengatakan hal ini kepada bibi ". " Meskipun andaikan aku bisa mengatakannya, ia tak akan memiliki uang sebanyak itu " .

" Kalau begitu apa yang akan kau lakukan ? " , saya bertanya .
" Saya akan menelepon night club di Las Vegas dan meminjam uang " .
" Mari kita menunggu saja telepon mereka " . " Tak ada hal lain yang dapat kita lakukan sekarang " .

Harlem terletak ditepi sungai Harlem bagian selatan yang bertemu denegan East River pada bagian luar Central Park . Distrik yang terkenal karena buruknya itu dibagi menjadi Harlem Hitam , Harlem Spanyol dan Harlem Italia .

Ketika saya berada di New York pada musim semi 1954, ada beberapa bangunan apartemen moderen ditempat-tempat slum ( perkampungan ) . Akan tetapi Harlem lama masih jelas tampak . Ketika aku pergi ke Harlem Spanyol untuk pertama kalinya, saya bahkan tidak bisa membedakan antara yang Spanyol dan Italia .

Taksinya perlahan-lahan bergerak dari Lexington Avenue kedaerah yang remang-remang karena lampu neon yang tidak terang . Saya minta sopir untuk menghentikan mobilnya kira-kira satu blok dari tempat yang saya tuju. Ketika sopir menghentikan taksinya, saya mengangsurkan sepotong kertas dengan nomor telepon tempat saya tinggal dan nama Marj tertulis diatasnya . Saya selipkan uang sepuluh dolar. Si sopir tidak mengerti apa yang saya kehendaki . Saya berkata kepadanya : " Tolong tunggu disini satu jam tepat. Apakah kamu mau melakukannya ? "
" Bila itu yang kau kehendaki ……………".
" Bila aku tidak kembali dalam waktu satu jam, kau tak perlu menunggu lebih lama ". " Teleponlah nomor ini dan katakan pada wanita dengan nama ini bahwa aku tidak kembali dalam waktu satu jam " .
" Baiklah" , si pengemudi taksi menjawab .

Ketika saya membuka pintu mobil dan lampu didalam menyala, si sopir berbalik melihat kearah saya dambil berkata : " Saya tidak tahu kemampuanmu, tetapi dibagian kota ini ada baiknya kamu berhati-hati " . " Baiklah, terima kasih " .

Saya menemukan bangunan itu tanpa banyak kesulitan. Saya tidak langsung masuk, tetapi meneliti sekitarnya dengan cermat . Ada sebuah lorong belakang disepanjang sisi bangunan . Saya berdiri pada lorong belakang itu dibawah bayang-bayang bangunan . Saya bisa melompat dari salah satu jendela kelorong itu bila diperlukan, demikian saya pikir . Kemudian saya kencing. Kencing adalah cara pasti untuk menenangkan syaraf . Saya kembali pada bagian depan bangunan itu dan menaiki tangga batu yang menuju serambi . Saya membuka pintu serambi dan melangkah masuk . Beberapa buah balon memperlihatkan sebuah ruangan yang dipenuhi dengan bau tak sedap . Semuanya tertutup dengan debu tebal .

Saya telah mengetahui dari percakapan tadi siang ,bahwa tempat persembunyian para bajingan itu ada diatas . Saya menaiki tangga kayu yang berderit-derit kelantai dua . Seorang laki-laki berdiri diujung tangga dan bersandar pada sandaran tangan .
" Oyama ? ", laki-laki itu bertanya . " Benar " . " Lewat sini " ,ia berkata sambil membawa saya kesebuah ruangan yang tak berperabot. Ada sebuah meja yang kumal ditengah tengah ruangan. Meja itu dikelilingi oleh sebuah kursi dengan sandaran tangan dan empat buah kursi dengan sandaran lurus terbuat dari kayu .

Dibawah sebuah jendela didinding kiri terdapat sebuah sofa tua . Laki-laki yang membawa saya , masuk keruangan tadi sambil menutup pintu dengan sebelah tangan dibelakang punggungnya . Saya mencari tombol lampu dan mendapatkannya ada di dinding tak jauh dari pintu. Saya berdiri dengan punggung menghadap tombol dan melihat sekeliling .

Semuanya ada enam lelaki. Dua diantara mereka duduk diatas sofa dekat jendela didinding sebelah kiri, sedang tiga lainnya duduk disekeliling meja dan yang satu duduk disatu satunya kursi bersandaran tangan. Ia tampak agak lebih tua dibanding yang lain. Pastilah dia boss nya, demikian pikir saya. Ia mungkin orang Spanyol atau orang Puerto Rico . Ada sebuah pintu yang pastilah menuju keruangan dalam. Pintu itu agak terbuka sedikit dan saya melihat sebuah ranjang besi . Ruangan itu penuh asap yang bergantung .

" Kami telah menunggu kamu Tuan Oyama " , laki-laki dikursi bersandaran tangan itu berkata. " Kami telah melihat di surat kabar beberapa laporan tentang kamu " . " Bukankah kamu adalah laki-laki yang memecahkan bata dan batu karang dengan tangan kosong itu ? " Ada sebotol whisky dan beberapa buah gelas diatas meja . Laki-laki itu mendorong sebuah kursi kearah saya dan berkata : " Duduklah ! " .

Saya berjalan kearah meja dan menarik kursi untuk duduk dihadapan laki-laki itu . Dan kemudian saya meletakkan salah satu kaki menyilang diatas lainnya . Sikap ini merupakan sikap yang paling mudah untuk melakukan tindakan cepat dalam keadaan bagaimanapun . Dengan postur seperti itu kamu dapat menendang perut seorang lawan yang menyerang secara tak terduga . Disamping itu, kamu bisa juga menendang meja yang terletak diantara kamu dan lawan .

" Apakah kamu membawa uang itu ? " , ia bertanya . " Mana Tom ? ", saya berkata . Boss itu mengangguk pada seorang laki-laki berambut keriting yang berdiri disebelahnya. Si keriting itu mendekati pintu yang agak terbuka . Ia kemudian membukanya lebar untuk memperlihatkan Tom dan seorang wanita yang sedang duduk dengan tubuh agak terbungkuk . Keduanya telanjang bulat . " Aneh sekali memang, orang menjadi jinak dan penurut kalau mereka telanjang " , si Boss berkata dengan suara datar .

Meskipun Marj sudah menunjukkan foto Tom, tapi inilah yang pertama kalinya saya bertemu dengan orangnya . Dia mungkin baru berumur dua puluh tahun. Wanita itu tampak jauh lebih tua. Dia paling tidak berusia 27 tahun, saya pikir. Keduanya pirang .

"Siapa yang mengambil uangnya ? Anda ? ", saya bertanya sambil menunjuk pada laki-laki yang duduk dikursi . " Bukan, yang saya inginkan hanyalah menghajar wanita itu untuk kepuasan saya ". " Uangnya untuk dia " . " Dia berhak untuk itu " . " Kau tahu, Tom telah memakainya, Ia harus membayarnya " .

Saya memandang wanita itu sekali lagi. Ada dua laki-laki lain yang menjaga tahanan telanjang , yang ada diruangan sebelah itu .
Saya harus menghadapi delapan orang sekali gus . Laki-laki yang mengantar saya tadi mengeluarkan pisau dan membukanya .
" Boleh saya minum ? " , saya berkata sambil meraih gelas diatas meja .
" Tentu " , kata si Boss sambil mengisikan whisky kedalam gelas kira-kira dua per tiganya . Saya meminumnya dengan sekali teguk . Inilah pertama kalinya saya minum begitu banyak selama hidup saya . Whisky ini menghangatkan tubuh saya . Saya bertanya - tanya dalam hati apakah saya dapat keluar dari tempat ini hidup-hidup .

Pikiran bahwa saya bisa mati disudut dunia yang aneh dan kotor ini memberontak . Telapak tangan saya yang memegang gelas menjadi basah dengan keringat . Kedua ketiak saya juga dingin karena keringat . Saya sedang mempertaruhkan nyawa untuk saudara seorang gadis yang saya temui secara kebetulan di Las Vegas. Pikiran ini sungguh mengganggu saya . Saya menuangkan lagi whisky kedalam gelas dan mengeringkannya .

"Mari kita mengurus bisnis kita ", kata si Boss . " Apakah kamu membawa sepuluh ribu itu , atau apakah kamu memerlukan sedikit waktu lagi untuk mengumpulkannya ?" . " Apabila kamu hendak mengontak perusahaan rekaman, kita masih bisa menunggu sampai besok pagi " . Laki-laki itu berkata dengan nada yang tanpa emosi sama sekali .

Saya berpikir, bahwa saya harus menjaga diri agar tetap tenang dan sekaligus membuat lawan saya gentar . Satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup terletak pada kacaunya kerja sama lawan-lawan saya .

" Saya dengar kamu dapat mengatur janji dengan call girl New York dengan bayaran seratus dolar", saya berkata sambil menyalakan rokok. Bersamaan dengan itu saya menarik sebuah asbak keramik yang ada diatas meja . Gerakan itu sepenuhnya adalah gerakan instinktif. Anda bisa menimbulkan luka yang cukup hebat apabila kamu menghantam leher atau wajah lawan dengan asbak yang berat .

" Apakah maksud kamu ?" , laki-laki itu bertanya perlahan-lahan .
" Tidak lain adalah, sepuluh ribu terlalu mahal untuk urusan semacam ini ", saya menjawab sama dinginnya .
" Apakah kamu datang kesini hanya untuk membuktikan bahwa kamu gila ? " .
" Tidak, saya datang kesini untuk membawa pulang Tom " .

Laki-laki yang duduk didepan berambut keriting tadi mengeluarkan pisau . Terdengar suara klik dan mata pisaunya melompat keluar . Salah satu laki-laki yang duduk di sofa mengangkat tubuh bagian atasnya . Ia bersiap-siap untuk menerkam setiap saat . Orang yang duduk disebelahnya adalah satu-satunya yang tetap seperti semula .

Laki-laki inilah yang berumur kira-kira tiga puluhan tampaknya yang paling dingin diantara mereka . Ia memegang gelas kosong pada satu tangan dan tangan yang lain dimasukkan kedalam saku mantel .

Sekarang laki-laki itu bangkit dari sofa dan berjalan kearah meja dengan gerakan kemalas-malasan . Ia mengisi gelasnya yang kosong dengan whisky dan mematikan rokoknya pada asbak seperti yang saya lakukan sebelumnya . Saya bersiaga, tetapi ia berjalan kembali kearah sofa dengan gelas whiskynya .

" Kamu kira dapat keluar hidup-hidup ? " , si Boss bertanya .
Saya mencari dalam kantong dan mengeluarkan sebuah koin. Dengan memegang koin itu dengan ibu jari serta dua jari lain pada tangan kanan, saya kemudian menekannya. Koin itu terlipat tak berbentuk. Saya meletakkannya diatas meja .

" Well, saya tidak tahu pasti apakah akan keluar hidup-hidup atau tidak ". " tetapi ada satu hal yang saya tahu pasti, bahwa salah satu diantara kalian yang membuat gerakan pertama pasti mati sepasti saya sekarang hidup " .
" Apakah kamu berkata bahwa kamu dapat menahan delapan pisau ? " , si Boss itu bertanya .
" Saya pernah membunuh banteng dengan tangan kosong". " Kamu tahu bahwa membunuh banteng dengan pisau memerlukan waktu dan banteng itupun tidak akan tinggal diam saja " . " Apakah kamu mengerti apa yang saya katakan ? " .

Saya memandang sekilas kearah Tom. Mukanya yang pucat tampak kaku . Si wanita memperlihatkan sikap tak peduli .

" Kita bisa membicarakannya nanti ,bila saya atau kamu masih hidup nanti ", saya berkata ". " Begitu ", si Boss berkata dengan tenang .

Saya memandang kesekeliling ruangan. Sekarang semuanya telah memegang pisau kecuali laki-laki bermantel itu . Saya bisa menangani semuanya ini, saya pikir . Tetapi saya harus berhati-hati dengan laki-laki bermantel itu .

Naluri saya mengatakan ada bahaya dipunggung saya. Reflek sayalah yang mendorong saya berikut kursi yang saya duduki menunduk kelantai . Sebuah pisau terbang disamping telinga kanan saya dengan jarak hanya serambut dan akhirnya menghunjam kedalam salah satu kaki kursi . Detik berikutnya wajah laki-laki yang melempar pisau tadi sudah ada didepan saya . Sebelum ia punya kesempatan untuk berbuat sesuatu, lutut kanan saya yang telah berada pada lutut kiri terbang kewajahnya. Raungan seperti jerit binatang memenuhi ruangan. Berdiri dari lantai saya segera melihat bahwa ia adalah laki-laki yang memimpin saya masuk tadi. Wajahnya penuh darah kental. Saya menempatkan diri saya pada posisi yang memungkinkan saya menendang meja dengan mudah. Si laki-laki keriting mulai berdiri tetapi ditahan oleh laki-laki yang duduk dikursi bersandaran tangan . Tak ada lainnya yang membuat gerakan. Tiba-tiba ruangan itu menjadi sangat sunyi. Beberapa saat kemudian saya tanya Boss itu : " Boleh saya membawa Tom ? " .
Karena beberapa alasan yang tidak saya pahami, laki-laki bermantel itu menawarkan diri untuk mengantar saya dan Tom keluar . Pada mulanya saya mencurigainya akan menembak di lorong belakang yang gelap . Tapi saya tidak merasakan adanya keberingasan pada dirinya .

" Apakah kamu ingin mengatakan sesuatu pada saya ? " , saya bertanya kepadanya ketika kami menuruni tangga yang sempit itu menuju serambi .
" Tidak ada yang penting , hanya saya ingin menanyakan, apakah yang kamu lakukan andaikata kami menggunakan senjata api ?", ia berkata . Suaranya benar benar tenang .
" Apa yang bisa saya lakukan ?" " Kemungkinan tidak ada sama sekali ", saya berkata . " Mengapa kamu tidak menggunakannya ? ".
" Hanya karena kamu tidak membawa apa-apa ". " Saya adalah temannya Boss , dan saya diminta untuk hadir ketika ada seorang karate-ka datang , kira-kira sebagai seorang body-guard , begitulah " . " Tapi saya tidak menanda tangani suatu kontrak apapun untuk membunuh orang……………… Well , saya gembira sekali mendapatkan kesempatan melihat macam apakah karate itu sebenarnya ". " Kecepatannya benar-benar mencengangkan ". " Suatu ketika nanti saya mungkin akan mempelajari karate " .

Taksi itu masih ditempatnya menunggu saya kembali. Saya mengangkat tangan pada laki-laki bermantel itu dan berjalan menuju kearah taksi . Laki-laki itu memanggil saya dan menganjurkan kerumah sakit . Baru setelah itulah saya merasakan sakit yang membakar pada paha kiri saya . Kaki kiri celana saya basah dengan darah .

Ketika taksi itu mulai bergerak saya merasa sakit sekali. Samar-samar saya ingat remang-remang nya sinar lampu dijalan, kemudian saya pingsan .

Hidup saya dengan Marj di New York berakhir dalam sebulan .
Saya tidak tahu apakah Marj menyaksikan pertunjukan Karate yang saya adakan di Madison Square Garden pada tahun 1962 .
Saya tahu dari Kartu Natal yang ia kirimkan tahun kemudian , bahwa ia telah menikah dan hidup tenang sebagai ibu rumah tangga . Tom tidak pernah mencapai puncak dalam dunia hiburan, demikianlah tampaknya .

Depan | Sejarah | Organisasi | Kegiatan

SUARA SHIHAN | Galeri | Dogi | Buku Tamu